PENDIDIKAN YANG BERPIHAK PADA RASA: JALAN SUNYI MENUJU SISWA YANG MANDIRI

Ditulis oleh ANDI BUDI SETIAWAN, S.Pd. - SMKS PGRI ROGOJAMPI
SMK Terbaik di Banyuwangi

Dalam praktik pendidikan sehari-hari, sering kali peserta didik diperlakukan seperti objek: target nilai, angka kelulusan, atau bahkan komoditas sistem. Padahal, pada hakikatnya peserta didik adalah manusia utuh—makhluk yang berpikir, merasa, dan bertumbuh. Kesadaran inilah yang menjadi fondasi penting dalam paradigma baru pendidikan: pendidikan yang memanusiakan manusia.

Sejalan dengan semangat Merdeka Belajar, pembelajaran hari ini seharusnya berpihak pada siswa. Bukan lagi guru sebagai pusat, melainkan siswa sebagai subjek utama pembelajaran. Namun, keberpihakan ini bukan berarti membiarkan segalanya tanpa arah. Di sinilah pembelajaran berdiferensiasi menemukan maknanya—bukan sekadar strategi teknis, melainkan kesadaran pedagogis.

Diferensiasi Dimulai dari Empati

Pembelajaran berdiferensiasi tidak bisa dilepaskan dari empati. Guru perlu memahami bahwa setiap siswa datang ke kelas dengan latar belakang, emosi, kesiapan, dan cara belajar yang berbeda. Empati berarti mencoba melihat dari sudut pandang siswa, merasakan apa yang mereka rasakan, dan memahami titik pijak mereka dalam belajar.

Hubungan guru dan siswa bukan hubungan transaksional, melainkan relasi kemanusiaan. Ada rasa, ada kepercayaan, dan ada ruang aman untuk bertumbuh. Dalam relasi seperti ini, siswa tidak sekadar “mengikuti”, tetapi benar-benar belajar. Menariknya, secara etimologis kata siswa berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti “pengikut”, sementara murid adalah orang yang sedang mencari jalan terang. Artinya, tugas guru bukan mengendalikan, melainkan menuntun.

Mengelola Emosi melalui Pembelajaran Berdiferensiasi

Salah satu tantangan terbesar siswa dalam belajar bukanlah materi, melainkan emosi: takut salah, cemas gagal, minder, atau kehilangan motivasi. Pembelajaran berdiferensiasi dalam konteks Merdeka Belajar dapat menjadi jembatan penting untuk membantu siswa mengelola emosi tersebut.

Ketika guru tidak terlalu intervensif dan memberi ruang bagi siswa untuk memilih cara belajar yang sesuai, siswa belajar bertanggung jawab atas prosesnya sendiri. Misalnya, melalui tugas kolaboratif, siswa belajar mengelola emosi saat bekerja dengan orang lain: belajar mendengar, mengemukakan pendapat, dan menyelesaikan konflik. Refleksi bersama di akhir pembelajaran juga membantu siswa mengenali perasaannya sendiri—apa yang sulit, apa yang menyenangkan, dan apa yang ingin diperbaiki.

Kemampuan refleksi inilah yang perlahan membentuk kemandirian belajar.

Diferensiasi yang Sederhana dan Membumi

Di lapangan, pembelajaran berdiferensiasi kerap terasa rumit. Diferensiasi konten, proses, produk, dan lingkungan sering kali justru membingungkan guru dan siswa. Belum lagi faktor budaya sekolah, kesiapan psikologis, serta inklusivitas yang belum sepenuhnya berjalan.

Salah satu pendekatan yang lebih sederhana adalah menerapkan prinsip zona perkembangan siswa. Guru memulai dengan asesmen awal yang jujur dan manusiawi: siapa siswa yang baru mampu menyusun kalimat, siapa yang sudah mampu menulis paragraf, dan siapa yang siap menghasilkan karya lebih kompleks. Dari sini, guru menyiapkan “arena” belajar, alat bantu, dan modal belajar yang sesuai.

Dengan cara ini, diferensiasi tidak terasa sebagai beban administrasi, melainkan bagian alami dari proses mendampingi siswa bertumbuh setahap demi setahap.

Merdeka Bukan Berarti Tanpa Batas

Di sisi lain, Merdeka Belajar juga kerap disalahpahami sebagai budaya serba boleh. Guru menjadi ragu menegur, khawatir memberi sanksi, dan akhirnya memilih aman: mengajar sekadarnya, tanpa mendidik secara utuh.

Padahal, jika merujuk pada gagasan Ki Hajar Dewantara, kemerdekaan memiliki level. Pada tahap awal, siswa dibimbing dan disadarkan. Pada tahap berikutnya, siswa diberi keterampilan untuk berkembang. Hingga akhirnya, siswa mampu mengembangkan dirinya sendiri. Inilah makna manusia merdeka: berdaulat atas diri sendiri, bukan bebas tanpa arah.

Mendidik adalah proses panjang yang menuntut niat, kesabaran, dan kesadaran. Tidak ada lompatan instan. Yang ada adalah langkah-langkah kecil yang konsisten: mendampingi, memahami, dan memberi ruang bagi siswa untuk bertumbuh.

Jika pendidikan dijalankan dengan empati, refleksi, dan keberpihakan pada kemanusiaan, maka pembelajaran tidak hanya mencetak siswa yang cerdas, tetapi manusia yang mandiri—secara pikiran, emosi, dan sikap.

Opini Guru | Penulis: ANDI BUDI SETIAWAN, S.Pd. | 15 Juni 2026 | 117 Dilihat

Mitra Sekolah

Instansi dan lembaga mitra yang bekerja sama dengan SMKS PGRI ROGOJAMPI

KANTOR KECAMATAN SRONO
KANTOR PEMERINTAH DESA GLADAG
Trinity
BADAN PENDAPATAN DAERAH
DAKON RESTO
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
KECAMATAN KABAT
FINANCING OUTLET BANYUWANGI
DINAS KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL KABUPATEN BANYUWANGI
BSI KCP GENTENG GAJAH MADA
Yudi Vision
Ravi Vision
PT. GLOBAL OFFSET SEJAHTERA
PUSKESMAS KABAT
PERUM PERHUTANI KPH BANYUWANGI BARAT
PUDAM (PERUSAHAAN UMUM DAERAH AIR MINUM) CABANG ROGOJAMPI
CV. JADE INDOPRATAMA
KPP Pratama Banyuwangi
AKADEMI PENERBANGAN INDONESIA BANYUWANGI
PT. EQUITYWORLD
BINA KARYA GRAFIKA
POLSEK ROGOJAMPI
BLAMBANGAN COLLEGE
SATLANTAS POLRESTA BANYUWANGI
BANK JATIM CABANG BANYUWANGI
BANK JATIM KF SRONO
PT. RAMAYANA LESTARI
KUA KECAMATAN ROGOJAMPI
BANK BRI KC BANYUWANGI
PT. SOGEH BARENG BERGUNA SURABAYA
GBB BULOG WONOSOBO
HARRIS HOTEL & CONVENTIONS BUNDARAN SATELIT SURABAYA
KANTOR KECAMATAN SINGOJURUH
BAWASLU BANYUWANGI
PT. INDO BISMAR SURABAYA
PT. SOGEH BARENG BERGUNA BANYUWANGI
PENGADILAN AGAMA BANYUWANGI
DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN
EL HOTEL
JIWA JAWA RESORT IJEN
LUMINOR HOTEL JEMBER
PT. RADIO SWARAWANGI TIMUR/RADIO BINTANG TENGGARA
PT. MAJESTY SUKSES ABADI
KECAMATAN ROGOJAMPI
UNIVERSITAS PGRI BANYUWANGI
PUSKESMAS SINGOJURUH
VOTEL MANYAR RESORT BANYUWANGI
BSI KCP BANYUWANGI S PARMAN
PT. BARES GROSIR SATU
HOTEL LUMINOR BANYUWANGI
BSI KCP BANYUWANGI ROGOJAMPI
BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN BANYUWANGI
KANTOR PELAYANAN PERBENDAHARAAN NEGARA
KANTOR BALAI DESA SUKONATAR
Dinas Perhubungan
PT. PEGADAIAN CABANG BANYUWANGI
KPH Banyuwangi Selatan
BANWASLU
KPU KABUPATEN BANYUWANGI
UPTD PUSKESMAS GITIK
DINAS PEMUDA DAN OLAHRAGA
ASTON BANYUWANGI HOTEL & CONFERENCE
Dinas Perikanan
POLSEK KABAT
MIDTOWN HOTEL SURABAYA
ARYOS STUDIO
HOTEL BINTANG MULIA
PT. HOTEL BULUSAN INDAH (KETAPANG INDAH HOTEL)
BAGIAN PROTOKOL DAN KOMUNIKASI PIMPINAN SEKRETARIAT DAERAH KAB. BANYUWANGI
NEW SURYA HOTEL
ID Express Kabat
KSP MODERN KARYA UTAMA
PUSKESMAS GLADAG
PT. CIPTA SARANA CENDEKIA
PT. JAYA SUBUR
BADAN KESATUAN BANGSA DAN POLITIK KABUPATEN BANYUWANGI
KANTOR DESA BENELAN LOR
BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET DAERAH
SEKRETARIAT DPRD BANYUWANGI
DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA
PT. AMARTHA MANUNGGAL PRIMA/ID EXPRESS
GRAND HARVEST RESORT AND VILLAS
RAJA ADVERTISING
Bank JATIM Capem Rogojampi
KANTOR KECAMATAN BANYUWANGI
RUMAH SAKIT ISLAM FATIMAH
PT. PEGADAIAN CABANG ROGOJAMPI
PT. BANK SYARIAH INDONESIA (FINANCING OUTLET BANYUWANGI)
BARES Rogojampi
UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 BANYUWANGI
Tulis